01 August 2009

Akhir Tersiat


Tanggal 1 Agustus 2009 masa tersiat 2009 diakhiri dengan Perayaan Ekaristi bersama komunitas St. Stanislaus Girisonta di Kapel DP. Romo Darminta SJ, Romo Putranta SJ sebagai instruktur tersiat, bersama kelima tersiaris, memimpin Perayaan Ekaristi yang menggunakan liturgi Pesta St. Ignatius.

Setelah Ekaristi berakhir, komunitas bergembira bersama dengan bersantap pagi bersama di refter DP.

Terima kasih sebesar-besarnya dihaturkan untuk seluruh anggota komunitas Girisonta yang selama enam bulan telah begitu mendukung kami semua. Terima kasih juga kepada semua Nostri yang dengan caranya masing-masing telah mendukung para tersiaris.

Hari Senin ini kami akan piknik ke Tegal dan Garut mengunjungi saudara-saudari dari Andre dan Budi selama 3 hari. Setelah itu kami mulai berkarya di tempat tugas masing-masing. Romo sekretaris sudah berjanji akan membawakan dan menyerahkan SK baru para tersiaris.

salam
andre

01 March 2009

Retret Agung Tersiaris

Retret Agung atau Latihan Rohani 30 hari akan dijalankan oleh para tersiaris mulai Senin 2 Maret 2009 selama satu bulan. Mohon doa bagi kami para tersiaris dan para pembimbing retret agung ini.

25 February 2009

RIP Romo FX Tan Soe Ie

Baru dua minggu para tersiaris membantu para novis melancarkan upacara pemakaman nostri, kami kembali ikut sibuk karena Romo FX Tan Soe Ie SJ menyusul Romo Hardawiryono SJ kembali ke pangkuan Bapa di Surga. Hari Rabu 25 Februari pagi dini hari, Romo Tan berpulang.

Upacara pemakaman di Girisonta kali ini mendapatkan bantuan dari warga Kolsani: para frater teologan dan romo rektor Kolsani membantu kelancaran misa requiem dalam koor, dan dalam membawa peti jenasah dari gereja ke Getzemani.

Banyak hal bisa dikenang dari kehidupan Romo Tan yang mempunyai concern besar terhadap para petani.

23 February 2009

Latihan Rohani

Minggu lalu, permenungan dan studi tentang autobiografi St. Ignatius telah berakhir. selama dua minggu kami membaca, merenungkan, dan mempelajari kisah Ignatius, sang peziarah.

Minggu ini kami memasuki masa persiapan retret agung. Terjemahan tulisan Franco Imoda SJ dalam terbitan CIS tahun 1992 sekarang ini menjadi bahan studi kami. Semoga kami dapat mempersiapkan hati dan budi kami untuk menjalankan retret agung minggu depan

14 February 2009

Sang Peziarah


Minggu ini para tersiaris mulai membaca dan merenungkan Kisah Sang Peziarah, St. Ignatius Loyola, yang ditulis oleh Pater Gonçalves da Câmara SJ. Membaca Kisah Sang Peziarah di saat dulu kami ada di novisiat ternyata sangat berbeda nuansa dan kekayaannya dibandingkan dengan saat ini, setelah kami mulai berkarya dalam Serikat. Buku ini menarik, karena bukan cerita tentang Ignatius, tetapi cerita tentang Karya Allah dalam diri Ignatius.

Pagi ini kami berdiskusi tentang masa pertobatan Ignatius di puri Loyola setelah kakinya terluka di benteng Pamplona saat berperang dengan tentara Perancis. Ternyata 12 paragraf yang telah kami baca sehari sebelumnya, menghasilkan begitu banyak permenungan dan refleksi. Dua jam berlalu dengan cepat penuh dengan pertanyaan, diskusi, dan permenungan. Kami menjadi semakin paham latar belakang Ignatius mendiktekan biografinya kepada Pater da Câmara SJ, dan apa yang terjadi pada diri Ignatius yang digerakan oleh Roh Allah.

Semoga semua Jesuit masih tetap setia pada pengalaman dan rahmat Allah yang membuat Ignatius berkobar untuk mengabdi Allah.

12 February 2009

Rm R. Hardawiryono SJ

Ada tradisi tak tertulis yang mengatakan bahwa setiap kali ada tersiaris di Girisonta dan novis secundi menjalan eksperimen luar rumah, maka akan ada Yesuit yang meninggal. Entah tradisi lisan ini datang dari mana. Akan tetapi tahun ini kembali terjadi, saat novis secundi harus pergi menjalankan eksperimen luar rumah, di hari yang sama Rm. Hardawiryono SJ dipanggil Tuhan.

Tersiaris di hari Jumat 6 Februari 2009 mendengar bahwa keadaan Romo Hardawiryono SJ semakin gawat di RS St. Elisabet Semarang. Siang hari setelah makan, kami berlima pergi menengok Rm. Harda di rumah sakit. Saat itu romo sadar, tetapi karena sedang diterapi oksigen setelah makan obat, maka beliau tidak dapat berbicara lancar dengan kami. Ini adalah pertemuan kami yang terakhir dengan Romo Harda, seorang teolog Indonesia yang sangat berpengaruh dan telah menterjemahkan begitu banyak dokumen dari Vatikan ke dalam bahasa Indonesia.

Para tersiaris bersepakat membantu kelancaran liturgi Ekaristi Requiem bersama para frater primi. Setelah sekian lama tidak duduk di bangku koor dengan jubah putih, kami berempat (kebetulan Rm. Setyo pergi ke Jakarta untuk memimpin misa) kembali menyumbangkan suara yang lumayan merdu. Hanya sekali latihan, dan karena hanya koor satu suara, maka koor bertugas dengan baik.

Selamat jalan Rm. Harda. Kami bangga pernah memiliki Romo dalam Serikat Yesus.

11 February 2009

Kunjungan ke Paroki Ambarawa

Meskipun ada kejadian penting terjadi di komunitas Girisonta, yaitu meninggalnya seorang tokoh besar Gereja, Rm. R. Hardawiryono SJ, para tersiaris tidak membatalkan rencana kunjungan ke paroki St. Yusup Ambarawa. Di sini ada tiga Jesuit yang tinggal: Rm. Panca Sukamat SJ, Rm. Mulyadi SJ, dan Rm. Suhartomo SJ.

Para tersiaris disambut hangat oleh Rm. Panca dan Rm Mulyadi. Kami diajak berkeliling melihat keindahan gereja Ambarawa yang bersejarah. Menurut Rm Panca, Ambarawa pernah direncanakan untuk menjadi pusat misi Jawa, sehingga gereja dibangun sangat megah dan diresmikan di tahun 1924. Arsitektur bangunan gereja dari muka tidak menampakan suatu bangunan yang penuh dengan ornamen, selayaknya gereja-gereja lama. Yang paling menonjol adalah tingginya menara dan kokohnya bangunan. Bisa dibayangkan kurang lebih 80 tahun yang lalu saat belum ada bangunan tinggi di sekitar bangunan gereja, bagaimana megahnya gereja ini.

Paroki Ambarawa mempunyai banyak umat, kurang lebih 6 ribu orang dan hanya dilayani dua imam SJ. Romo Suhartomo secara khusus melayani rumah retret Syalom di Bandungan, dan tidak terlibat dalam kehidupan paroki. Itulah sebabnya Romo Panca selalu mengundang para SJ di dekat Ambarawa untuk membantu melayani Ekaristi. Di samping misa hari Minggu, di lingkungan dan wilayah juga ada misa harian. Selama masa tersiat, Rm Setyo setuju akan membantu misa setiap akhir pekan.

Kami dibawa naik ke atas menara gereja di mana lonceng gereja dan jam gereja diletakan. Tangga terbuat dari kayu adn konon masih asli. Di atas menara kami melihat bagaimana jam gereja bekerja. Dengan teknologi sangat sederhana, ternyata gereja telah memberikan petunjuk waktu yang tepat untuk masyarakat sekelilingnya. Dari atas menara, kami bisa melihat keindahan kota Ambarawa dari atas.


Makan siang disediakan di refter komunitas. Ada menu istimewa siang itu, yaitu semur "mentok" khas Ambarawa. Kami melahap hidangan dengan antusias diselingi ngobrol sana-sini tentang kehidupan paroki. Makan siang ditutup dengan makan durian yang sangat enak. Hidup di paroki mempunyai kesenangannya sendiri.

Selesai makan siang kami diajak berjalan ke belakang gereja, di mana sekolah pertanian Kanisius berada. Jam 13.00 masih tampak beberapa siswa-siswi sedang belajar di kelas. Sekolah yang sangat luas. Tanahnya masih milik Serikat Jesus. Yayasan Kanisius hanya meminjam tempat itu untuk menjalankan sekolah pertanian. Adanya lahan yang luas membuat sekolah ini mempunyai tempat berlatih yang memadai.

Kurang lebih pukul 14.00 kami berpamitan pulang. Mobil kami meluncu ke pemandian Muncul di dekat kota Salatiga. Meskipun airnya sedingin air di lemari es, berempat kami menikmati olah raga sehat ini. Krispurwana yang tidak suka berenang, hanya duduk di pinggir kolam renang menikmati buku yang dibawanya.

04 February 2009

Wireless

Terbiasa bertahun-tahun hidup di dunia cyber, saat hendak masuk ke Girisonta saya sudah menyiapkan beberapa alat pembantu yang saya bawa dari Solo. Cukup mengagetkan bahwa rumah novisiat, yang di jaman saya "tidak punya apa-apa", sekarang ternyata sudah memiliki sambungan internet. Para novis sekarang ini sudah tidak mengenal mesin ketik tua-tua dan besar-besar yang dulu menjadi barang paling akrab selama saya novisiat. Segala sesuatu diketik dengan komputer. Mereka memang belum diperkenankan untuk akses ke dunia cyber. Saya yakin sebentar lagi tentu kebijakan ini akan direvisi. Di novisiat di Singapore saya mengalami para novis yang berselancara di dunia maya.

Tentu menjadi sesuatu yang terasa aneh, bahwa di kamar tidur saya tidak terdapat kabel LAN sehingga untuk mengakses internet, saya harus pergi ke ruang komputer. Saya mencoba memakai modem CDMA Smart saya. Bisa jalan, tetapi sangat amat lambat. Saya memakai access point yang saya bawa, ternyata signal wifi hanya satu bar saja, itupun kalau saya duduk di depan kamar tidur saya. Di dalam kamar, signal wifi kadang hidup, lebih sering mati. Keluhan per-internet-an saya dengar juga dari Romo Putranta dan Romo Sardi yang tidak bisa mengakses internet dengan kabel LAN di kamar mereka. Tampaknya bangunan novisiat yang begitu besar membuat instalasi kabel LAN menjadi sulit. Teknisi tampaknya sudah mengantisipasi hal ini, karena saya melihat beberapa hub dipasang di bangunan novisiat.

Akhirnya pagi ini, bersama Gandhi kami ikut Bruder Pur ke Semarang. Kami berdua ke toko komputer di simpang lima. Saya bermaksud membeli access point yang kuat yang dapat memancarkan signal ke seluruh gedung novisiat. Siang ini access point saya pasang, dan sekarang saya bisa mempunyai akses internet di kamar saya dengan mudah. Nanti saya mau men-survey apakah signal bisa mencapai ke bangunan novisiat bawah. Kata penjualnya access point ini mempunyai daya pancar sampai satu kilometer. Who believes it?

Apakah keterikatan dengan dunia cyber sudah begitu mencengkeram diri saya? Barangkali iya. Mulai dari TOK di Kamboja tahun 1997 saya sudah memakai e-mail. Saat enam tahun bekerja di JRS Indonesia dan Asia-Pacific, e-mail adalah sarana komunikasi yang paling sering saya pakai untuk berhubungan dengan siapa saja. Di ATMI saya sedang memperkenalkan budaya "paperless" yang berarti menggunakan website dan e-mail sebagai sarana membagi informasi.

02 February 2009

Hari Pertama

Semalam para pengikut tersiat satu demi satu datang di Girisonta. Lima orang dari lima angkatan yang berbeda diundang untuk menjalankan tersiat selama enam bulan. Kami menempati deretan kamar-kamar di sebelah utara di DP.

Pagi ini pukul 10.30 kami berkumpul bersama Romo Putranta SJ untuk membicarakan hal-hal teknis seputar kehidupan tersiaris, mulai dari masalah per-bidel-an, acara, jadwal, kebutuhan harian, dslb. Pertemuan dilanjutkan di antara para tersiaris sendiri dan diisi dengan pembagian tugas. Romo Budi Gomulia ditunjuk menjadi bidel tersiaris, Romo Gandhi menjadi ekonom dan minister, Romo Krispurwana menjadi bidel liturgi, Romo Setyo Wibowo menjadi prokurator, dan Romo Andre menjadi humas. Jadwal kegiatan sedang kami bicarakan dan nanti sore akan kami lanjutkan.

salam
andre

01 February 2009

Tersiat 2009 dimulai

Lima Yesuit diundang oleh socius provinsi untuk mengikuti program tersiat 2009 di Girisonta. Mereka adalah:


1. Telesphorus Krispurwana Cahyadi, SJ (entered : 1985; ordained: 1998) - Kris












2. Augustinus Setyo Wibowo, SJ (entered : 1988; ordained: 1999) - Setyo









3. Andreas Sugijopranoto, SJ (entered : 1990; ordained: 2000) - Andre










4. Hillarius Budiarto Gomulia - (entered : 1993; ordained: 2002) - Budi











5. Thomas Becket Gandhi Hartono, SJ (entered : 1994; ordained: 2004) - Gandhi





Tersiat akan dilaksanakan tanggal 2 Februari 2009 - 31 Juli 2009 di bawah bimbingan Romo J. Darminta SJ dan Romo C. Putranta SJ di Girisonta.

Blog ini dibuat sebagai tempat berbagi cerita dan pengalaman selama masa tersiat.

andre