Tersiaris di hari Jumat 6 Februari 2009 mendengar bahwa keadaan Romo Hardawiryono SJ semakin gawat di RS St. Elisabet Semarang. Siang hari setelah makan, kami berlima pergi menengok Rm. Harda di rumah sakit. Saat itu romo sadar, tetapi karena sedang diterapi oksigen setelah makan obat, maka beliau tidak dapat berbicara lancar dengan kami. Ini adalah pertemuan kami yang terakhir dengan Romo Harda, seorang teolog Indonesia yang sangat berpengaruh dan telah menterjemahkan begitu banyak dokumen dari Vatikan ke dalam bahasa Indonesia.
Para tersiaris bersepakat membantu kelancaran liturgi Ekaristi Requiem bersama para frater primi. Setelah sekian lama tidak duduk di bangku koor dengan jubah putih, kami berempat (kebetulan Rm. Setyo pergi ke Jakarta untuk memimpin misa) kembali menyumbangkan suara yang lumayan merdu. Hanya sekali latihan, dan karena hanya koor satu suara, maka koor bertugas dengan baik.Selamat jalan Rm. Harda. Kami bangga pernah memiliki Romo dalam Serikat Yesus.
No comments:
Post a Comment