04 February 2009

Wireless

Terbiasa bertahun-tahun hidup di dunia cyber, saat hendak masuk ke Girisonta saya sudah menyiapkan beberapa alat pembantu yang saya bawa dari Solo. Cukup mengagetkan bahwa rumah novisiat, yang di jaman saya "tidak punya apa-apa", sekarang ternyata sudah memiliki sambungan internet. Para novis sekarang ini sudah tidak mengenal mesin ketik tua-tua dan besar-besar yang dulu menjadi barang paling akrab selama saya novisiat. Segala sesuatu diketik dengan komputer. Mereka memang belum diperkenankan untuk akses ke dunia cyber. Saya yakin sebentar lagi tentu kebijakan ini akan direvisi. Di novisiat di Singapore saya mengalami para novis yang berselancara di dunia maya.

Tentu menjadi sesuatu yang terasa aneh, bahwa di kamar tidur saya tidak terdapat kabel LAN sehingga untuk mengakses internet, saya harus pergi ke ruang komputer. Saya mencoba memakai modem CDMA Smart saya. Bisa jalan, tetapi sangat amat lambat. Saya memakai access point yang saya bawa, ternyata signal wifi hanya satu bar saja, itupun kalau saya duduk di depan kamar tidur saya. Di dalam kamar, signal wifi kadang hidup, lebih sering mati. Keluhan per-internet-an saya dengar juga dari Romo Putranta dan Romo Sardi yang tidak bisa mengakses internet dengan kabel LAN di kamar mereka. Tampaknya bangunan novisiat yang begitu besar membuat instalasi kabel LAN menjadi sulit. Teknisi tampaknya sudah mengantisipasi hal ini, karena saya melihat beberapa hub dipasang di bangunan novisiat.

Akhirnya pagi ini, bersama Gandhi kami ikut Bruder Pur ke Semarang. Kami berdua ke toko komputer di simpang lima. Saya bermaksud membeli access point yang kuat yang dapat memancarkan signal ke seluruh gedung novisiat. Siang ini access point saya pasang, dan sekarang saya bisa mempunyai akses internet di kamar saya dengan mudah. Nanti saya mau men-survey apakah signal bisa mencapai ke bangunan novisiat bawah. Kata penjualnya access point ini mempunyai daya pancar sampai satu kilometer. Who believes it?

Apakah keterikatan dengan dunia cyber sudah begitu mencengkeram diri saya? Barangkali iya. Mulai dari TOK di Kamboja tahun 1997 saya sudah memakai e-mail. Saat enam tahun bekerja di JRS Indonesia dan Asia-Pacific, e-mail adalah sarana komunikasi yang paling sering saya pakai untuk berhubungan dengan siapa saja. Di ATMI saya sedang memperkenalkan budaya "paperless" yang berarti menggunakan website dan e-mail sebagai sarana membagi informasi.

No comments:

Post a Comment