11 February 2009

Kunjungan ke Paroki Ambarawa

Meskipun ada kejadian penting terjadi di komunitas Girisonta, yaitu meninggalnya seorang tokoh besar Gereja, Rm. R. Hardawiryono SJ, para tersiaris tidak membatalkan rencana kunjungan ke paroki St. Yusup Ambarawa. Di sini ada tiga Jesuit yang tinggal: Rm. Panca Sukamat SJ, Rm. Mulyadi SJ, dan Rm. Suhartomo SJ.

Para tersiaris disambut hangat oleh Rm. Panca dan Rm Mulyadi. Kami diajak berkeliling melihat keindahan gereja Ambarawa yang bersejarah. Menurut Rm Panca, Ambarawa pernah direncanakan untuk menjadi pusat misi Jawa, sehingga gereja dibangun sangat megah dan diresmikan di tahun 1924. Arsitektur bangunan gereja dari muka tidak menampakan suatu bangunan yang penuh dengan ornamen, selayaknya gereja-gereja lama. Yang paling menonjol adalah tingginya menara dan kokohnya bangunan. Bisa dibayangkan kurang lebih 80 tahun yang lalu saat belum ada bangunan tinggi di sekitar bangunan gereja, bagaimana megahnya gereja ini.

Paroki Ambarawa mempunyai banyak umat, kurang lebih 6 ribu orang dan hanya dilayani dua imam SJ. Romo Suhartomo secara khusus melayani rumah retret Syalom di Bandungan, dan tidak terlibat dalam kehidupan paroki. Itulah sebabnya Romo Panca selalu mengundang para SJ di dekat Ambarawa untuk membantu melayani Ekaristi. Di samping misa hari Minggu, di lingkungan dan wilayah juga ada misa harian. Selama masa tersiat, Rm Setyo setuju akan membantu misa setiap akhir pekan.

Kami dibawa naik ke atas menara gereja di mana lonceng gereja dan jam gereja diletakan. Tangga terbuat dari kayu adn konon masih asli. Di atas menara kami melihat bagaimana jam gereja bekerja. Dengan teknologi sangat sederhana, ternyata gereja telah memberikan petunjuk waktu yang tepat untuk masyarakat sekelilingnya. Dari atas menara, kami bisa melihat keindahan kota Ambarawa dari atas.


Makan siang disediakan di refter komunitas. Ada menu istimewa siang itu, yaitu semur "mentok" khas Ambarawa. Kami melahap hidangan dengan antusias diselingi ngobrol sana-sini tentang kehidupan paroki. Makan siang ditutup dengan makan durian yang sangat enak. Hidup di paroki mempunyai kesenangannya sendiri.

Selesai makan siang kami diajak berjalan ke belakang gereja, di mana sekolah pertanian Kanisius berada. Jam 13.00 masih tampak beberapa siswa-siswi sedang belajar di kelas. Sekolah yang sangat luas. Tanahnya masih milik Serikat Jesus. Yayasan Kanisius hanya meminjam tempat itu untuk menjalankan sekolah pertanian. Adanya lahan yang luas membuat sekolah ini mempunyai tempat berlatih yang memadai.

Kurang lebih pukul 14.00 kami berpamitan pulang. Mobil kami meluncu ke pemandian Muncul di dekat kota Salatiga. Meskipun airnya sedingin air di lemari es, berempat kami menikmati olah raga sehat ini. Krispurwana yang tidak suka berenang, hanya duduk di pinggir kolam renang menikmati buku yang dibawanya.

No comments:

Post a Comment